Terdepan Meraih Kebaikan (Al-Khair)
Di antara tanda syukur terbesar kepada Allah adalah menjadikan nikmat yang kita terima sebagai jalan untuk mendekat kepada-Nya. Hidup, waktu, usia muda, keluarga, jabatan, dan segala hal yang kita miliki saat ini, semuanya adalah karunia yang pada waktunya akan berlalu. Karena itu, satu-satunya cara agar nikmat tersebut tidak hilang sia-sia adalah dengan menukarkannya kepada Allah dengan nikmat yang lebih besar, yakni nikmat surga. Inilah hakikat syukur.
Maka orang yang benar-benar bersyukur bukanlah mereka yang hanya menikmati nikmat dunia, tetapi mereka yang menggunakannya untuk meraih nikmat akhirat. Sayangnya, banyak di antara kita yang hanya memandang kebaikan sebagai sesuatu yang besar dan jauh di masa depan, padahal peluangnya sering hadir dalam bentuk yang sederhana dan segera.
Kisah sahabat Ukasyah bin Mihshan ra menjadi contoh nyata. Dalam satu majelis, Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar gembira bahwa akan ada 70.000 umat beliau yang masuk surga tanpa hisab. Di tengah keheningan yang menggetarkan itu, Ukasyah berdiri dan meminta didoakan agar termasuk dalam golongan tersebut. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنْتَ مِنْهُمْ
"Engkau termasuk dari mereka."
Tak lama kemudian, sahabat lain ikut meminta hal yang sama. Namun Rasulullah menjawab:
سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ
"Ukasyah telah mendahuluimu."
Jawaban ini menjadi pepatah dalam bahasa Arab: “Sabaqaka bihā ‘Ukāsyah” — Ukasyah telah mendahuluimu.
Jawaban ini menjadi simbol betapa pentingnya bersikap cepat dalam meraih peluang kebaikan.
3 Bekal untuk Menjadi Terdepan dalam Kebaikan
Agar kita menjadi generasi yang terdepan dalam kebaikan sebagaimana firman Allah:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ
"Kemudian Kami wariskan Kitab (Al-Qur’an) kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami; lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada pula yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah."
(QS. Fāṭir: 32)
Maka setidaknya ada tiga hal yang harus dibiasakan:
1. Konsultasi kepada Allah: Shalat Istikharah sebagai Jalan Hidup
Setiap keputusan, sekecil apa pun, semestinya dikonsultasikan kepada Allah. Inilah makna terdalam dari shalat istikharah, yang bukan hanya dilakukan untuk urusan besar seperti jodoh atau pekerjaan, tapi untuk semua keputusan.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعَلِّمُنَا الاِسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ
“Rasulullah ﷺ mengajarkan kami istikharah dalam semua urusan sebagaimana beliau mengajarkan surah dari Al-Qur’an.”
(HR. al-Bukhārī)
Artinya, ini adalah amalan harian, bukan insidental.
2. Berikhtiar dengan Ilmu
Berusaha tanpa ilmu bisa membutakan arah. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Baik dalam hal ibadah, kehidupan pribadi, maupun urusan sosial. Al-Qur’an dengan jelas menyebut:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
"Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
(QS. Az-Zumar: 9)
Menghadiri majelis ilmu, membaca buku, atau berdiskusi dengan ahlinya adalah bentuk nyata dari ikhtiar berbasis ilmu. Dengan ilmu, kita tidak hanya menjalani hidup, tapi mengarahkannya ke tujuan yang benar.
3. Bangun Budaya Mengajak kepada Kebaikan
Seruan kebaikan bukan hanya tugas para dai di mimbar. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji umat yang “mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” Kita semua adalah bagian dari umat ini.
Mengajak kepada kebaikan bisa dimulai dari lingkup paling kecil: keluarga, tetangga, atau teman dekat. Yang terpenting adalah membiasakan diri untuk menghargai amal baik dan memotivasi orang lain untuk terus bertumbuh dalam kebajikan.
Jadilah Ukasyah di Zaman Ini
Saat masuk masjid, pilih shaf terdepan. Saat kajian, pilih duduk paling dekat dengan guru. Dalam hidup, niatkan selalu untuk menjadi yang terbaik. Jangan hanya menargetkan nilai “cukup” dalam amal kebaikan, karena bisa jadi kita justru tak mendapatkan apa-apa.
Dalam sunatullah kehidupan, tidak ada keberhasilan tanpa cita-cita tinggi dan upaya sungguh-sungguh. Maka jadilah seperti Ukasyah. Cepat melihat peluang amal, berani memintanya, dan mengambilnya sebelum kesempatan itu hilang.
Semoga kita semua menjadi pribadi yang cepat dalam menjemput kebaikan, aktif dalam berkonsultasi kepada Allah, tekun dalam ikhtiar berilmu, dan giat dalam menyeru kepada amal shalih. Inilah jalan menjadi umat terbaik, umat yang dirindukan surga.
“Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Disarikan dari khutbah Ust. Muhammad Furqan Alfaruqiy
di Masjid Al-Ihsan Graha Cinere, Depok
Jum'at, 22 Desember 2023
Tambah Komentar